array(6) { [0]=> object(WP_Post)#4488 (24) { ["ID"]=> int(59) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:03" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:03" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(21) "Hendra Iskandar Lubis" ["post_excerpt"]=> string(9) "Komisaris" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(21) "hendra-iskandar-lubis" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-14 23:36:41" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-14 23:36:41" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(67) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=59" ["menu_order"]=> int(0) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } [1]=> object(WP_Post)#4482 (24) { ["ID"]=> int(66) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:20" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:20" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(12) "Vita Silvira" ["post_excerpt"]=> string(9) "Komisaris" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(12) "vita-silvira" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:20" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:20" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(66) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=66" ["menu_order"]=> int(1) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } [2]=> object(WP_Post)#4481 (24) { ["ID"]=> int(67) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:42" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:42" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(11) "Rozan Anwar" ["post_excerpt"]=> string(7) "Direksi" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(11) "rozan-anwar" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:42" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:42" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(66) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=67" ["menu_order"]=> int(3) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } [3]=> object(WP_Post)#4480 (24) { ["ID"]=> int(68) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:58" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:58" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(14) "Endah S. Afiff" ["post_excerpt"]=> string(7) "Direksi" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(13) "endah-s-afiff" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:58" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:52:58" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(66) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=68" ["menu_order"]=> int(4) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } [4]=> object(WP_Post)#4479 (24) { ["ID"]=> int(69) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:18" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:18" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(12) "Meike Malaon" ["post_excerpt"]=> string(7) "Direksi" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(12) "meike-malaon" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:18" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:18" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(66) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=69" ["menu_order"]=> int(5) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } [5]=> object(WP_Post)#4520 (24) { ["ID"]=> int(70) ["post_author"]=> string(1) "1" ["post_date"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:35" ["post_date_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:35" ["post_content"]=> string(0) "" ["post_title"]=> string(14) "Vina G. Pendit" ["post_excerpt"]=> string(7) "Direksi" ["post_status"]=> string(7) "publish" ["comment_status"]=> string(6) "closed" ["ping_status"]=> string(6) "closed" ["post_password"]=> string(0) "" ["post_name"]=> string(13) "vina-g-pendit" ["to_ping"]=> string(0) "" ["pinged"]=> string(0) "" ["post_modified"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:35" ["post_modified_gmt"]=> string(19) "2015-09-01 14:53:35" ["post_content_filtered"]=> string(0) "" ["post_parent"]=> int(0) ["guid"]=> string(66) "http://localhost/wordpress/?post_type=dayalima_management&p=70" ["menu_order"]=> int(7) ["post_type"]=> string(19) "dayalima_management" ["post_mime_type"]=> string(0) "" ["comment_count"]=> string(1) "0" ["filter"]=> string(3) "raw" } }

Mendukung program seni dan budaya, program pembelajaran kreatif dalam organisasi, serta berbagai kegiatan yang berkontribusi menjadikan Indonesia yang lebih baik.

PROGRAM

Menaungi PT Daya Dimensi Indonesia, PT Dayalima Rekrutmen, dan Daya Dimensi Global Group yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia agar mampu menjadi penggerak organisasi, masyarakat, dan negara ke arah yang lebih baik.

KEGIATAN

Kebanggaan dan kecintaan menjadi bangsa Indonesia memberikan kami semangat menyebarkan angin positif untuk perubahan yang lebih baik. Kekayaan seni budaya Indonesia sungguh pantas jadi hal yang dibanggakan. Karenanya, salah satu cara yang kami pilih untuk mengangkat nama bangsa adalah memberikan dukungan untuk program seni dan budaya unggul seperti pementasan opera Diponegoro karya Sardono W. Kusumo dan Padusi karya Tom Ibnur.

Selain itu kami juga percaya membicarakan kekuatan dan peluang perbaikan akan dapat memberikan manfaat positif bagi Indonesia. Untuk itu kami menggelar forum Percakapan, yang menjadi wadah mendengarkan dan berdiskusi dengan berbagai tokoh tentang hal-hal yang menjadi kepentingan bersama di beragam bidang, seperti sosial, sejarah, seni budaya, kesehatan sampai kuliner dan teknologi. Forum Percakapan kami laksanakan secara berkala di kantor PT Daya Dimensi Indonesia, Kawasan Mega Kuningan. Pembicara yang pernah hadir di Percakapan: TP Rahmat, Anies Baswedan, Goenawan Mohamad dan Noni Poernomo.



DIPONEGORO

Opera Diponegoro: Ketika Maestro Tari Berkolaborasi dengan Sang Legenda

 

Opera Diponegoro adalah pemaparan perjalanan Pangeran Diponegoro, baik pribadi dan perjuangannya, yang ditafsirkan kembali secara koreografis oleh maestro tari Sardono W. Kusumo. Dipentaskan pertama kali pada Art Summit Indonesia pada tahun 1995, hingga saat ini Opera Diponegoro telah dipentaskan sebanyak 15 kali di berbagai tempat.

 

Namun ada yang berbeda dalam pementasan di tanggal 11 November 2011, di bawah tajuk Java War! (Opera) Diponegoro 1825-0000 ini. Tak hanya tanggalnya bertepatan dengan ulang tahun Pangeran Diponegoro yang ke-226, tetapi pementasan ini pun dilakukan oleh Sardono dengan berkolaborasi bersama legenda musik Indonesia, Iwan Fals.

 

Dalam setiap babak, Iwan Fals menyanyikan lagu ciptaannya yang berdasar lirik (libretto) otobiografi Pangeran Diponegoro (Babad Diponegoro), kecuali lirik babak terakhir yang ditulis oleh Sardono W. Kusumo. Setiap lagu akan mengiringi koreografi baru dari Sardono.

 

Sebuah karya legendaris Raden Saleh, berjudul “Penangkapan Diponegoro”, akan menjadi latar pertunjukan. Tak mengherankan jika sejarawan Peter Carey, penulis The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008), juga dilibatkan dalam pementasan dan mempresentasikan lukisan Raden Saleh yang digunakan.

 

Salah satu tema yang juga diangkat dari opera ini adalah perjuangan kaum muda untuk masyarakatnya. Pangeran Diponegoro dan panglima perangnya (seperti Sentot Alibasjah), adalah potret pemimpin muda di jamannya. Diramaikan oleh Happy Salma sebagai salah satu karakter, serta 30 penari dan 60 orang pendukung lainnya, Opera Diponegoro menjadi salah satu pertunjukan yang tak hanya artistik, namun juga sarat dengan nilai budaya dan pesan sejarah.

 

        
PADUSI

Padusi – Pertunjukan Drama Tari

 

Perempuan mempunyai banyak arti dan cerita di Indonesia dan juga dunia. Padusi yang berartikan perempuan di ranah Minang juga mempunyai satu sejarah dan makna tersendiri terlebih lagi bagi masyarakat Minang sendiri.

 

Pada kesempatan ini, Daya Lima bersama Yayasan Bunda bekerjasama dengan Tom Ibnur, maestro tari dan juga guru besar dari STSI Padang Panjang menyelenggarakan sebuah pagelaran Drama Tari berjudul Padusi, pada tanggal 11-12 Mei 2013 yang lalu, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

 

Melibatkan 50 penari dan musisi, Tom Ibnur menampilkan 3 legenda perempuan dari Ranah Minang yang menginspirasi perempuan nasional. Percintaan, kesetiaan dan juga harga diri adalah topik dan tema cerita yang akan ditampilkan secara seni drama dan tari. Tom Ibnur pun juga membawa para penari asli dari Bukit Tinggi ke Jakarta untuk menjadi bagian dari Pagelaran Musik dan Tari Padusi.

 

Pertunjukan Padusi melibatkan para pemain teater senior diantaranya Sha Ine Febriyanti, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, Arswendy Nasution, Marissa Anita dan dua pemain teater dari ISI Padang Panjang.

 

Pertunjukan Padusi ini sendiri menceritakan tentang sosok perempuan urban Jakarta bernama Padusi yang diperankan oleh Marissa Anita. Di usianya yang matang ia ingin merasakan kebebasannya untuk hidup dan memahami akar budaya aslinya. Setelah bercerai dari suaminya, tanpa dikaruniai anak, Padusi merasa bahwa ini saat yang tepat baginya untuk menjelajahi tanah kelahiran nenek moyangnya, apalagi selama hampir sepuluh tahun terakhir, ia ternyata belum bisa merasakan ‘inner happiness’ . Hidup ia jalani berdasarkan keinginan orangtua dan mantan suaminya semata.

 

Terdapat tiga cerita budaya yang memberi inspirasi untuk Padusi saat ia pulang ke tanah leluhurnya. Cerita pertama adalah seorang bidadari bernama Puti Bungsu yang terpaksa menjadi manusia biasa dan menikah di bumi.

 

Dilanjutkan dengan kisah kedua, Siti Jamilan, cerminan seorang perempuan yang kecewa kepada suaminya yang telah menikah lagi dengan wanita lain, sehingga ia memutuskan untuk membunuh anak & dirinya sendiri.

 

Kisah terakhir yang diangkat yaitu tentang seorang perempuan bernama Sabai nan Aluih yang menuntut keadilan karena akan dipersunting secara paksa dengan seorang datuk tua bangka, Rajo nan Panjang.

 

Pada pagelaran Drama Tari Padusi ini, Tom Ibnur bekerjasama dengan Rama Soeprapto sebagai sutradara dan Nia Dinata sebagai penulis naskah. Ini merupakan kolaborasi pertama mereka berdua dalam membuat satu pagelaran teater seni drama dan tari.

 

Nia Dinata yang memang banyak mengangkat cerita tentang perempuan, menyatakan bahwa ia memiliki “keterikatan” tersendiri dengan Padusi. Selain karena memang berdarah Minang, Nia merasa memiliki gairah khusus untuk mengeksplorasi drama tari ini.

 

Sedangkan Rama Soeprapto sebagai sutradara akan menyuguhan sentuhan artistik yang minimalis dengan teknik visual prima dalam penggabungan seni drama dan tari menjadi satu presentasi yang unik. Bagi Rama Soeprapto ini merupakan tantangan tersendiri : menggabungkan maestro, penari dan para pemain teater senior dalam 3 cerita.

 

 

 

 

        
Talking Millennials

CONVERGENCE OF WORK, PLAY, & TECHNOLOGY: A Series of Talking Millennials

Generasi millennials di dunia kini berjumlah 95 juta jiwa dan akan mencapai 75% dari jumlah tenaga kerja global pada tahun 2025*. Temukan cara organisasi Anda dapat memimpin di era millennials melalui #TalkingMillennials.

Melanjutkan kesuksesan acara tahun lalu, Talking Millennials – The New Game of Leadership, DayaLima kembali menyelenggarakan acara yang menghubungkan perusahaan dengan angkatan kerja paling terdigitalisasi, berjudul Convergence of Work, Play & Technology: A Series of Talking Millennials.

Tahun ini Talking Millennials mengedepankan sharing ilmu dan tren terbaru oleh praktisi dan pakar dari berbagai organisasi terkemuka di dunia dalam bidang teknologi, millennials, dan teknologi untuk millennials. Partisipan juga dapat mencoba langsung berbagai teknologi mutakhir dalam memikat, memilih, dan mendukung perkembangan talenta dalam perusahaan.

 

Selasa, 16 Mei 2017, 09.00 WIB

di West Java Ballroom, the Westin Jakarta

Jl. H. R. Rasuna Said Kav. C-22 A, Jakarta

 

Harga Tiket: Rp 1.900.000,- (belum termasuk pajak)

Dapatkan harga khusus untuk pendaftaran sebelum 28 April 2017!

Untuk informasi dan pendaftaran, hubungi:

Della – 021 576 44 55

amelinda.fidella@dayadimensi.co.id

*Sumber: Deloitte Millennials Survey, 2014.


HUBUNGI KAMI

Apabila ada pertanyaan, tinggalkan pesan dan kami akan menghubungi Anda.



DayaLima Abisatya


Gedung Alamanda, Lantai 23
Jalan TB. Simatupang,
kav 23-24 - Jakarta 12430

T: +6221 2966 1919
F: +6221 2966 1917

info@dayalima.com